Rabu, 17 Juni 2015




23:05 PM.01/14/2015

DEAR GOD
Aku…. Adalah satu, satu kata yang beradaptasi dalam sebuah lingkungan hidup yang semuanya serba menuntut. Menuntut untuk jadi berbeda, menuntut untuk bisa beradaptasi, menuntut segala hal yang tak ku inginkan, menuntut sesuatu yang bukan dari dasar jiwaku sendiri. terkadang disaat aku ingin menjadi diriku sendiri, hal itu membuatku menjadi sangat memalukan. Bagaimana tidak memalukan, jika segala sesuatunya sangat berbeda. Segalanya telah berubah, kini taklagi mampu rasanya aku menanggung beban yang semakin lama semakin membesar. Ya…. Selain Usia yang semakin menua, juga kebutuhan akan keluarga semakin menuntutku untuk bisa menentukan jalan hidup yang akan ku jalani esok hari, apakah akan terus seperti ini dalam kegelapan yang memang berasal dari jiwaku, ataukah terus bersandiwara seolah aku normal dan terus menjalani hidup dengan kepalsuan.
Terkadang aku terfikir untuk bisa merubah segalanya jadi biasa, ya… kehidupan normal pada umumnya. Punya pacar, punya keluarga, punya anak, hidup bahagia. Tapi rasanya hal itu sangat sulit bagiku untuk mewujudkanya. Hal ini benar benar membuatku bingung, yang aku nggak tau hingga detik ini, apakah ini normal ? . jika ini memang normal, kenapa aku sangat berbeda dari kebanyakan mereka ? . dan jika ini memang sesuai dengan perkiraanku, kenapa Tuhan memberikan aku cobaan seperti ini, cobaan yang sangat sulit bagiku untuk bisa menerima kenyataan ini. berbagai pertanyaan hanya mampu berputar putar di dalam kepalaku tanpa mampu ku jawab satu persatu.
Jika Tuhan mendengarku saat ini, aku hanya ingin bilang padaNya
Tuhan…. Jika hal ini hukuman darimu, maka aku rela menjalaninya dengan sekuat dan semampuku, jika ini cobaan dariMu, aku juga akan coba terus tambah dalam menjalaninya. Engkau tau Tuhan, bahwa aku bukanlah orang yang mudah menyerah, namun jika Engkau menginginkanya, maka aku siap ! .
Tuhan…. Kau maha segalanya, hal yang mustahil dilakukan oleh kami, Engkau dapat dengan mudah melakukanya. Dengan alasan itu Tuhan, aku memohon padamu Tuhan, rubahlah aku menjadi sosok yang real Tuhan, real layaknya pria pada umumnya. Rasanya aku sudah bosan dengan semua sandiwara ini Tuhan….
Tuhan…. Aku punya kedua orang tua yang harus aku bahagiakan, lantas bagaimana caranya aku bisa membahagiakan mereka, sedangkan diriku sendiri kini dalam keadaan menderita dan sekarat batin. Tuhan, hanya Kaulah yang tau segalanya tentang jalan hidupku ini, dan di tanganMulah semua kendali hidupku berada. Mudah mudahan semua seluk beluk yang ku jalani saat ini, akan membuahkan kebahagiaan di hari esok. Amin….

Selasa, 16 Juni 2015



12:48PM. 17/06/2015

KESENDIRIANKU…..

Ketika rasa sepi mulai merasuk dalam kalbu, seakan akan tak mampu untuk menguasai diri, bagaimana tidak, hanya bayangmulah yang selalu timbul dalam sanubari, membuat hati dan perasaanku kian miris untuk membayangkan akan sosok dirimu dalam benakku. Seandainya engkau mampu hadir dalam dunia nyataku, pasti semua kegelisahan ini akan terjawab.

Betapa aku menginginkan sosok sepertimu, yang selalu ada disampingku ketika aku sedih maupun ketika dalam kegembiraanku. Sosokmu adalah impianku, ketulusanmu adalah idamanku, betapa hati telah terbius oleh semua tentangmu, yang kini mewujud sebagai bayang bayang semu, yang kadang terlihat jelas engkau hadir dalam duniaku, namun terkadang juga engkau hadir hanya dalam mimpiku. Mimpi yang tak sanggup aku terjemahkan dalam otakku. Apakah aku salah jika aku terlalu menginginkanmu sebagai pendampingku ?,
Yahhh… semua itu sudah terjawab. Bagaimana tidak, hukum Negara yang menentang jelas kaum sepertiku, menganggab bahwa seperti kami adalah orang orang hina, perusak moral bangsa, pencoreng nama baik, dan banyak bla bla blab bla…. Mereka hanya memandang kami sebelah mata.

Kami hanya ingin dianggab ada, kami lelah jika harus terus sembunyi dalam semua kepalsuan ini. Terus bersandiwara, sedangkan perasaan tersiksa. Namun inilah resiko kehidupan orang orang yang melawan dunia sepertiku. Segala konsekuensinya harus dapat kami terima. Jika tidak, maka kami sendirilah yang akan mati tersiksa oleh semua seluk beluk hinaan dan ocehan yang menyayat hati.

Dalam kesendirianku, aku mampu berfikir, dengan ketidak sempurnaan ini, aku mampu memanfaatkannya untuk hal hal positif sesuai yang aku inginkan. Kadang aku bersyukur, seandainya aku ditakdirkan untuk menjadi laki laki seutuhnya, mungkin aku sudah seperti orang orang kebanyakan, menikah diusia dini, karena tak mampu menahan sahwat akan nafsu sesaat. Dengan segala keterbatasan ini, aku bersyukur karna masih mampu mengejar semua cita cita yang kuinginkan. Masih bebas terbang kemana saja yang kumau.

Kesendirianku, terbayar oleh kebebasanku dalam memilih jalan hidupku. Mungkin suatu saat nanti aku akan sama seperti kalian semua, tapi itu pasti ada waktunya. Dan untuk saat ini, aku benar benar bahagia menjalani kehidupanku dengan status ini.

Tuhan, terimakasih atas semua kasih yang kau berikan padaku, walau terkadang seakan akan kau cuek dengan semua masalahku, namun aku tau, bahwa engkau adalah sosok yang perduli terhadapku, dan semua umat yang kau kasihi…

Kesendirianku…. Kebahagiaanku….